Keseruan Siswi SMA MTA Saat Berpartisipasi dalam Acara Solo Literacy Festival 2025

SOLO- Perpustakaan Daerah (Perpusda) Solo mengadakan acara Solo Literary Festival 2025 (SLF) pada Kamis-Sabtu (11-13/09/25). Acara bertempat di halaman dan di dalam Pendhapi Gedhe Balaikota Solo. Kegiatan ini bersifat umum dan banyak dikunjungi oleh para pelajar dari berbagai sekolah. Salah Satunya dari SMA MTA Surakarta.

“Meningkatkan penguatan literasi anak remaja zaman sekarang. Perlu kita ingat, literasi tidak hanya bisa membaca buku saja, tapi juga bisa membaca gambar, membaca lukisan, visual maupun gerak,” ujar bapak Nanang, salah seorang panitia Solo Literacy Festival 2025.

Pada gelaran hari pertama SLF 2025, ada seminar dengan topik “Senandung Kota Bengawan: Waldjinah dan Keroncong: dari Panggung Rakyat ke Arsip Dunia. Seminar ini dimulai pukul 13.00 WIB dan dinarasumberi oleh Sita Ratih Pratiwi budayawan dari Rumah Budaya Kraton, Danang Rustiyanto dari Lokananta, dan Bambang Heri S dari Galeri Walang Kekek. Selain acara seminar literasi, di dalam pendopo balaikota juga terdapat banyak stan yang memamerkan berbagai macam karya dan warisan budaya.

Di Sebelah utara terdapat stan umum. Di antaranya stan “Persewaan Buku Pitik Emas” yang dikelola oleh Bu Ninong Sasongo. Isi Stan tersebut terdapat buku lawas yang jual dengan harga mencapai jutaan rupiah. Hal ini dikarenakan buku tersebut sangat langka dan digambar secara manual dengan tangan manusia. Tepat di sebelah stan “Persewaan Buku Pitik Emas” ada stan Galeri Batik Nusantara “Walang Kekek” yang isinya ada berbagai macam batik dari berbagai daerah. Beberapa contoh batik yang dipajang adalah batik Nglowong, Ngiseni, dan Mopox. Di bagian selatan terdapat jejeran stan pameran perpustakaan dari beberapa sekolah.

Tidak hanya di dalam pendopo yang ramai, di luar pendopo juga tidak kalah ramai dengan bazar makanan dan hasil karya seni seperti gelang manik-manik, makrame, dan gantungan kunci rajut. Selai itu, juga terdapat spot foto yang cantik. Pas di depan pendopo terdapat bemo khas zaman dulu yang difungsikan sebagai perpustakaan keliling.

Siswi SMA MTA setelah berkeliling stan, kemudian kembali melanjutkan tugas pelajaran Bahasa Indonesia yakni membuat dan membaca puisi yang didampingi oleh Ustadz Abdul Wahid selaku guru Bahasa Indonesia. Puisi yang dibuat siswi bertemakan “keluarga”. Seusai membuat puisi, secara bergantian mereka mendeklamasikan puisi karyanya di depan balaikota Solo dan disaksikan oleh teman-teman, serta pengunjung SLF 2025 yang lainnya.

Tepat setelah selesai sholat Ashar, diadakan gladi bersih tampilan wayang kulit desertai dengan berbagai macam alat musik seperti gamelan dan gong. Kerennya lagi, yang bertindak sebagai dalang dan yang menabuh alat musi tradisional ini adalah anak-anak pelajar TK dan SD. [Latifah Dwi, Zada, Fitri, dan Emeka]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *